Utang... ooh utang. Diawal bulan Desember 2009 kemarin saya menyempatkan diri berlibur ke Singapur (selama ini kalau kesana selalu urusan pekerjaan). Menginap disalah satu hotel mewah di Orchad Road yang terkenal itu cukup kaget karena antrian check-in hotel berisi 90% orang Indonesia. Hebatnya lagi ada dari sebagian dari yang antri ini sudah menenteng tas belanjaan dari department store terkemuka di Orchad seakan-akan takut kehilangan diskon dari barang-barang yang mereka beli.
Fenomena yang tidak hanya terjadi pada orang Indonesia. Negara tetangga di Asia seperti Hong Kong, Korea dan Singapur menyatakan bahwa anak muda dan eksekutif muda mereka hampir seluruhnya tidak memiliki tabungan dan mengandalkan hidup mewah mereka dari utang. Nah dengan nge top nya Indonesia sebagai salah satu negara dengan masyarakat yang konsumtif di dunia (rangking gini kok bangga ya), tidak heran kalau tidak akan lama lagi anak-anak muda di Indonesia akan bankrut menyusul tetangga Singapur dan Hong Kong.
Nah, walaupun begitu hutang tidak semuanya jelek lho. Didalam ilmu perencanaan keuangan dikenal ada 2 jenis hutang yaitu hutang produktif dan hutang konsumtif. Hutang Produktif biasanya nilai aset yang dibeli akan naik seiring dengan berjalannya waktu dan/atau aset yang dibeli bisa memberikan/menghasilkan income yang sama atau lebih besar dari biaya cicilan hutang (pokok & bunga). Contohnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR),Kredit Pemilikan Ruang Usaha (Ruko, Kios) dll.
Hutang Konsumtif kebalikannya dimana nilai aset yang dibeli akan turun (depreciate) sejalan dengan waktu, aset yang dibeli dengan cara berhutang tidak dapat memberikan / menghasilkan income yang sama atau lebih besar dari biaya cicilan hutang (pokok & bunga), biasanya tidak memerlukan jaminan (kolateral) dan mengenakan Suku bunga yang sangat tinggi.
Penting penting penting untuk selalu memperhatikan rasio hutang terhadap penghasilan. Total cicilan hutang anda tidak boleh lebih dari 30% dengan toleransi mentok di 35% penghasilan utama keluarga (suami atau istri), bukan menghasilan digabung. Kenapa bukan penghasilan digabung? Karena apabila salah satu dari penghasilan hilang rasio cicilan akan meningkat sampai dengan 50% dari penghasilan. Nah, kalau rasio sudah tinggi 45%-50% dari penghasilan utama dipakai untuk membayar cicilan hutang, dijamin (ngak cuma hp aja ada jaminan alias garansi) tidak lama lagi anda akan bankrut.
Nah ini sangat berbeda dan bertolak belakang dengan praktek yang selalu dilakukan selama ini oleh Institusi Keuangan (sorry guys...u've done terribel job on this) dimana rasio cicilan hutang sebuah keluarga adalah berkisar antara 30%-35% dari penghasilan digabung atau keduanya. Kenapa? supaya mereka bisa ngasih kredit yang lebih besar lagi. Apakah “sales / marketing” nya peduli anda akan bankrut karena tidak mampu bayar cicilan?, by the time anda bankrut mungkin dia juga sudah tidak kerja disitu lagi hahaha.
Perhitungan sederhana ini juga bisa dilakukan sebelum anda mengambil hutang lainnya seperti kartu kredit dan lainnya sehingga anda tidak terjerat lingkaran hutang yang akan membuat anda kesulitan dalam membayarnya di kemudian hari.
Minggu, 24 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

cieee yg dah mulai ngeposting...hehe..
BalasHapusmas bahas ttg cashflow donk..kan masih januari pasti byk yg punya resolusi bisa ngatur keuangan dengan baik tahun ini..jd aku bsa ngeliatin ke temen2 aku jg hehe
betul bangetss, nextnya di posting materi plan financial for single woman..heheheheh
BalasHapus